貼文 · Sep 15, 2026
Harga Emas Stabil di US$4.300, Minyak Naik dan Ekspektasi The Fed Hike Menguat
Harga emas bertahan di sekitar US$4.300 per troy ounce di tengah kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS, dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Emas Stabil di $4.300, Kenaikan Harga Minyak Tingkatkan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Harga emas bergerak cenderung stabil pada perdagangan Selasa setelah mengalami tekanan lebih dari 1% pada sesi sebelumnya. XAU/USD bertahan di kisaran US$4.300 per troy ounce, di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut turut memperkuat ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Pada pukul 22.06 ET atau 02.06 GMT, harga emas spot tercatat naik 0,2% menjadi US$4.306,86 per troy ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas melemah tipis ke US$4.346,65. Harga perak menguat 0,3% menjadi US$63,42, sedangkan platinum bergerak relatif datar di level US$1.764,36 per troy ounce.
Harga Minyak dan Dolar AS Jadi Beban Emas
Pergerakan emas masih dibayangi oleh kombinasi kenaikan harga minyak, tingginya imbal hasil Treasury AS, serta penguatan dolar Amerika Serikat. Indeks Dolar AS naik ke level 99,60, sehingga membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar.
Sebelumnya, harga emas anjlok lebih dari 1% pada perdagangan Senin dan menyentuh level terendah dalam lima pekan. Pelemahan tersebut mencerminkan meningkatnya perhatian investor terhadap dampak kenaikan biaya energi terhadap inflasi AS, sekaligus kemungkinan respons kebijakan moneter dari The Fed.
Pasar kini memperkirakan probabilitas sekitar 92% untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan pekan ini. Lonjakan harga energi dinilai berpotensi mempertahankan tekanan inflasi, sehingga memperkuat alasan bagi bank sentral AS untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Suku Bunga Tinggi Membatasi Potensi Penguatan Emas
Kenaikan suku bunga biasanya menjadi faktor negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Ketika yield obligasi meningkat, aset berbunga menjadi lebih menarik bagi investor dan dapat mengurangi minat terhadap emas dalam jangka pendek.
Meski demikian, permintaan emas sebagai aset lindung nilai dan instrumen diversifikasi portofolio masih berpotensi memberikan dukungan terhadap harga dalam jangka panjang. Investor tetap mencermati perkembangan inflasi, kebijakan The Fed, serta kondisi geopolitik global.
Gangguan Jalur Minyak Timur Tengah Jadi Perhatian
Tekanan inflasi terbaru juga berkaitan dengan kondisi pasar minyak setelah Arab Saudi menutup jalur pipa East-West menyusul serangkaian serangan pada pekan lalu.
Jalur tersebut sebelumnya berperan penting dalam mengalihkan ekspor minyak guna mengurangi dampak gangguan di Selat Hormuz. Penutupan infrastruktur tersebut meningkatkan risiko terganggunya pasokan jutaan barel minyak per hari dan berpotensi menjaga harga energi tetap tinggi menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed.
Dengan kombinasi dolar AS yang menguat, yield Treasury yang tinggi, dan risiko kenaikan harga energi, ruang penguatan emas masih menghadapi tantangan. Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada keputusan suku bunga Federal Reserve serta perkembangan harga minyak global.
留言 · 0